BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penerapan
pengendalian internal di berbagai organisasi baik dalam skala kecil maupun
besar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk mencapai
tujuan organisasi. Secara historis, meningkatnya peran pengendalian internal
tidak dapat lepas dari kasus kejatuhan perusahaan energi raksasa Enron dan
beberapa kasus perusahaan besar lainnya yang di latar belakangi fraud oleh
manajemen yang akhirnya menyadarkan pengendalian internal sebagai upaya
preventive untuk mencegah tindakan defisiensi yang mengancam keberlangsungan
perusahaan. Hal ini juga yang melahirkan salah satu acuan hukum utama bagi
penerapan pengendalian internal yakni Sarbanes-Oxley Act 2002 (SOX) yang salah
satu pasalnya yaitu bagian 404 (section 404) mengatur kewajiban adanya pengendalian
internal di perusahaan.
Sebagai
upaya untuk mencapai kepatuhan berdasarkan SOX, secara umum perusahaan
menggunakan sebuah kerangka kerja yang dikenal dengan COSO Framework yang
diterbitkan tahun 1992 oleh sebuah organisasi independent bernama COSO
(Committee of Sponsoring Organization of the Tradeway Commission). Kerangka
kerja COSO mencakup desain pengendalian yang mengikutsertakan kebutuhan
kelompok-kelompok yang berhubungan dengan pengendalian internal yaitu auditor
internal dan eksternal, manajemen en ntitas, dan pemilik perusahaan selaku
pemegang otoritas.
Dalam
upaya perusahaan melakukan ekspansi, Perusahaan memerlukan pengendalian yang
efektif terhadap arus kas yang dimilikinya terutama untuk mendukung kegiatan
perusahaan dimasa depan. Pengendalian yang dimaksud efektif adalah derajat
kesesuaian dengan 17 prinsip yang tertuang dalam COSO Internal Control
Framework 2013.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka dapat ditarik rumusan masalahnya adalah:
·
Tingkat efektivitas pengendalian
internal dalam peningkatan kinerja perusahaan?
BAB 2
DASAR TEORI
2.1.
Definisi Internal Control
Pengertian pengendalian internal (internal control) adalah
merupakan semua elemen dari sebuah organisasi yang diambil bersama-sama dalam
mencapai tujuan organisasi, atau tindakan yang dapat meningkatkan kemungkinan
mencapai tujuan perusahaan. Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian
intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya
manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu
organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Internal Control
merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya
suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan
(fraud) dan melindungi sumber daya atau aset. dijelaskan bahwa manajemen harus
melakukan proses Audit Pengendalian internal, tujuannya untuk memastikan apakah
bawahannya telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan sistem dan prosedur
sehingga terhindar dari kemungkinan adanya kecurangan.
Pengertian internal
control menurut AICPA adalah mencakup rencana organisasi dan seluruh metode
koordinasi dan ukuran yang diadopsi dalam suatu usaha atau bisnis untuk
melindungi aset-asetnya, memeriksa akurasi dan keandalan data akuntansi, mendorong
efisiensi kegiatan dan kepatuhan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan
Manajerial. Defenisi tersebut menjelaskan bahwa pengendalian intern tidak
didefinisikan sebagai pemeriksaan internal saja tetap dengan ruang lingkup yang
lebih luas dalam suatu organisasi meliputi keandalan informasi,
pengendalian, kepatuhan atas kebijakan dan pengamanan aset perusahaan.
Menurut Warren Reeve
Fess Control merupakan seluruh kegiatan untuk mengarahkan operasi mereka,
melindungi aktiva dan mencegah penyalahgunaan sistem dalam perusahaan (Warren
Reeve Fess, 2005:226).
Menurut Baridwan
Definisi Sistem pengendalian intern dalam arti yang luas adalah meliputi
struktur organisasi dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikoordinasikan
yang digunakan didalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta
milik perusahaan, memajukan efisiensi di dalam operasi, dan membantu menjaga
dipatuhinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu
(Baridwan, 2001:13).
Menurut Ikatan
Akuntansi Indonesia Pengendalian internal adalah sistem yang meliputi
organisasi semua metode dan ketentuan yang terorganiasi yang dianut dalam suatu
perusahaan untuk melindungi harta miliknya, mencek kecermatan dan keandalan
data akuntansi serta meningkatkan efisiensi usaha (IAI, 2007:39).
Mulyadi merupakan pakar di Indonesia mengenai
akuntansi, banyak buku yang dia tulis mengenai Sistem Akuntansi, terutama
mengendalian sistem pengendalian intern. Pengertian Sistem Pengendalian Intern
Menurut mulyadi adalah : meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran
yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya
kebijaksanaan manajemen yang bertujuan untuk Menjaga kekayaan organisasi,
Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan
mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen (Mulyadi, 2008).
2.2. Internal Control
menurut COSO
COSO adalah Committee
of Sponsoring Organizations of The Treadway Commissions yang dibentuk pada
tahun 1985 bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan
penggelapan laporan keuangan dan membuat rekomendasi untuk mengurangi kejadian
tersebut.
Pengertian internal
control menurut COSO yang saya kutip dalam bahasa inggris adalah sebagai
berikut.
"Definition internal control is broadly defined as a
process, effected by an entity's board of directors, management, and other
personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement
of objectives relating to operations, reporting, and compliance"
Internal Control menurut COSO
adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff,
untuk membuat reasonable assurance mengenai:
·
Efektifitas
dan efisiensi operasional
·
Reliabilitas
pelaporan keuangan
·
Kepatuhan
atas hukum dan peraturan yang berlaku
Menurut COSO framework, Internal control terdiri dari 5 komponen
yang saling terkait, yaitu:
1.
Control
Environment
2.
Risk
Assessment
3.
Control
Activities
4.
Information
and communication
5.
Monitoring
Berdasarkan gambar
tersebut menjelaskan bahwa ada suatu hubungan langsung antara tujuan - tujuan
sebagai apa yang hendak dicapai entitas dengan komponen komponen pengendalian
internal yang mewakili apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan tujuan itu, serta
struktur organisasi entitas pada setiap tingkatan (divisi, unit, operasi,
fungsi, dan lainnya). Ketiga kategori tujuan tersebut (operasi, pelaporan, dan
ketaatan) diwakili oleh kolom, kemudian kelima komponen pengendalian internal
diwakili oleh baris, sedangkan struktur organisasi entitas direpresentasikan
oleh ketiga dimensinya.
Pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling
berkaitan sebagai berikut:
1. Lingkungan Pengendalian
(Control Environment)
Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi,
mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan
pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern,
menyediakan disiplin dan struktur. Lingkungan pengendalian menyediakan
arahan bagi organisasi dan mempengaruhi kesadaran pengendalian dari orang-orang
yang ada di dalam organisasi tersebut. Beberapa faktor yang berpengaruh di
dalam lingkungan pengendalian antara lain integritas dan nilai etik, komitmen
terhadap kompetensi, dewan direksi dan komite audit, gaya manajemen dan gaya
operasi, struktur organisasi, pemberian wewenang dan tanggung jawab, praktik
dan kebijkan SDM. Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai tentang
lingkungan pengendalian untuk memahami sikap, kesadaran, dan tindakan
manajemen, dan dewan komisaris terhadap lingkungan pengendalian intern, dengan
mempertimbangkan baik substansi pengendalian maupun dampaknya secarakolektif.
2.
Penaksiran
Risiko (Risk Assessment)
Penaksiran risiko adalah
identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai
tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko
harus dikelola. Penentuan risiko tujuan laporan keuangan adalah
identifkasi organisasi, analisis, dan manajemen risiko yang berkaitan dengan
pembuatan laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan PABU. Manajemen risiko
menganalisis hubungan risiko asersi spesifik laporan keuangan dengan aktivitas
seperti pencatatan, pemrosesan, pengikhtisaran, dan pelaporan data-data
keuangan. Risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup peristiwa dan
keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negatif
mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan
melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan
keuangan. Risiko dapat timbul atau berubah karena berbagai keadaan, antara lain
perubahan dalam lingkungan operasi, personel baru, sistem informasi yang baru
atau yang diperbaiki, teknologi baru, lini produk, produk, atau aktivitas baru,
restrukturisasi korporasi, operasi luar negeri, dan standar akuntansi baru.
3.
Aktivitas
Pengendalian (Control Activities)
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu
menjamin bahwaarahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas tersebut membantu
memastikan bahwa tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi risiko dalam
pencapaian tujuan entitas. Aktivitas pengendalian memiliki berbagai tujuan dan
diterapkan di berbagai tingkat organisasi dan fungsi. Umumnya aktivitas
pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai
kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan review terhadap kinerja,
pengolahan informasi, pengendalian fisik, dan pemisahan tugas. Aktivitas
pengendalian dapat dikategorikan sebagai berikut.
1.
Pengendalian
Pemrosesan Informasi
Ø pengendalian umum
Ø pengendalian aplikasi
Ø otorisasi yang tepat
Ø pencatatan dan dokumentasi
Ø pemeriksaan independen
2.
Pemisahan
tugas
3.
Pengendalian
fisik
4.
Telaah
kinerja
4. Informasi Dan Komunikasi
Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan,
dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang
melaksanakan tanggung jawab mereka. Sistem informasi yang relevan dalam
pelaporan keuangan yang meliputi sistem akuntansi yang berisi metode untuk
mengidentifikasikan, menggabungkan, menganalisa, mengklasikasi, mencatat, dan
melaporkan transaksi serta menjaga akuntabilitas asset dan kewajiban.
Komunikasi meliputi penyediaan deskripsi tugas individu dan tanggung jawab
berkaitan dengan struktur pengendalian intern dalam pelaporan keuangan. Auditor
harus memperoleh pengetahuan memadai tentang sistem informasi yang relevan
dengan pelaporan
keuangan untuk memahami :
1.
Golongan
transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi laporan keuangan.
2.
Bagaimana
transaksi tersebut dimulai.
3.
Catatan
akuntansi, informasi pendukung, dan akun tertentu dalam laporan keuangan yang
tercakup dalam pengolahan dan pelaporan transaksi.
4.
Pengolahan
akuntansi yang dicakup sejak saat transaksi dimulai sampai
dengan dimasukkan ke dalam laporan keuangan, termasuk alat elektronik yang
digunakan untuk mengirim, memproses, memelihara, dan mengakses informasi.
5. Pemantauan / Monitoring
Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja
pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain dan
operasi pengendalian tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi. Proses ini
dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus, evaluasi
secara terpisah, atau dengan berbagai kombinasi dari keduanya. Di berbagai
entitas, auditor intern atau personel yang melakukan pekerjaan serupa
memberikan kontribusi dalam memantau aktivitas entitas. Aktivitas pemantauan
dapat mencakup penggunaan informasi dan komunikasi dengan pihak luar seperti
keluhan pelanggan dan respon dari badan pengatur yang dapat memberikan petunjuk
tentang masalah atau bidang yang memerlukan perbaikan. Komponen pengendalian
intern tersebut berlaku dalam audit setiap entitas. Komponen tersebut harus
dipertimbangkan dalam hubungannya dengan ukuran entitas, karakteristik
kepemilikan dan organisasi entitas, sifat bisnis entitas, keberagaman dan
kompleksitas operasi entitas, metode yang digunakan oleh entitas untuk
mengirimkan, mengolah, memelihara, dan mengakses informasi, serta penerapan
persyaratan hukum dan peraturan
Fokus Internal COSO:
1.
Fokus
Pengguna Utama adalah manajemen.
2.
Sudut
pandang atas internal control adalah kesatuan beberapa proses secara umum.
3.
Tujuan
yang ingin dicapai dari sebuah internal control adalah pengoperasian sistem
yang efektif dan efisien, pelaporan laporan keuangan yang handal serta
kesesuaian dengan peraturan yang berlaku.
4.
Komponen/domain
yang dituju adalah pengendalian atas lingkungan, manajemen resiko, pengawasan
serta pengendalian atas aktivitas informasi dan komunikasi.
5.
Fokus
pengendalian dari eSAC adalah keseluruhan entitas.
6.
Evaluasi
atas internal control ditujukan atas seberapa efektif pengendalian tersebut
diterapkan dalam poin waktu tertentu.
7. Pertanggungjawaban atas sistem
pengendalian dari eSAC ditujukan kepada manajemen.
BAB 3
PEMBAHASAN
Dari beberapa pendapat
para ahli dapat dijelaskan bahwa tujuan pengendalian internal yaitu mencakup
tiga hal pokok yang dapat diuraikan sebagai berikut: Tujuan - tujuan operasi
yang berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi operasi. Bahwa pengendalian
internal dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari
semua operasi perusahaan sehingga dapat mengendalikan biaya yang bertujuan
untuk mencapai tujuan organisasi.
Tujuan-tujuan pelaporan.
Bahwa pengendalian internal dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan data serta
catatan catatan akuntansi dalam bentuk laporan keuangan dan laporan manajemen
sehingga tidak menyesatkan pemakai laporan tersebut dan dapat diuji
kebenarannya.
Tujuan-tujuan ketaatan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Bahwa pengendalian internal
dimaksudkan untuk meningkatkan ketaatan entitas terhadap hukum hukum dan
peraturan yang telah ditetapkan pemerintah, pembuat aturan terkait, maupun
kebijakan kebijakan entitas itu sendiri.
Ketiga tujuan
pengendalian internal tersebut merupakan hasil (output) dari suatu pengendalian
internal yang baik, yang dapat dicapai dengan memperhatikan unsur unsur
pengendalian internal yang merupakan proses untuk menghasilkan pengendalian
internal yang baik. Oleh karena itu, agar tujuan pengendalian internal tercapai,
maka perusahaan harus mempertimbangkan unsur unsur pengendalian internal.
Berdasarkan definisi
dari COSO maka perusahaan wajib mengembangkan komponen-komponene pengendalian
internal "Internal control consists of five integrated components” sebagai
berikut:
1. Lingkungan
Pengendalian (Control Invironment)
Prinsip yang harus ditegakkan atau dijalankan dalam
organisasi untuk mendukung lingkungan pengendalian agar dapat terwujud dengan
baik, yaitu:
·
Organisasi yang terdiri dari dewan
direksi, manajemen, dan personil lainnya menunjukkan komitmen terhadap
integritas dan nilai-nilai etika.
·
Dewan direksi menunjukkan
indenpendensi dari manajemen dan dalam mengawasi pengembangan dan kinerja
pengendalian internal.
·
Manajemen dengan pengawasan dewan
direksi menetapkan struktur, jalur pelaporan, wewenang-wewenang dan tanggung
jawab dalam mengejar tujuan.
·
Organisasi menunjukkan komitmen untuk
menarik, mengembangkan, dan mempertahankan individu yang kompetensi sejalan
dengan tujuan.
·
Organisasi meyakinkan individu
bertanggung jawab atas tugas dan tanggung jawab pengendalian internal mereka
dalam mengejar tujuan.
2. Penilaian
Risiko (Risk Assessment)
Prinsip-prinsip yang
mendukung penilaian risiko menurut COSO sebagai berikut:
· Organisasi menetapkan tujuan dengan
kejelasan yang cukup untuk memungkinkan identifikasi dan penilaian risiko yang
berkaitan dengan tujuan.
· Organisasi mengidentifikasi risiko
terhadap pencapaian tujuan di seluruh entitas dan analis risiko sebagai dasar
untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola.
·
Organisasi mempertimbangkan potensi
kecurangan dalam menilai risiko terhadap pencapaian tujuan.
· Organisasi mengidentifikasi dan menilai
perubahan yang signifikan dapat mempengaruhi sistem pengendalian internal.
3. Aktivitas
Pengendalian (Control Activities)
COSO
menegaskan mengenai prinsip prinsip dalam organisasi yang mendukung aktivitas
pengendalian yaitu sebagai berikut:
· Organisasi memilih dan mengembangkan
aktivitas pengendalian yang berkontribusi terhadap mitigasi risiko pencapaian
sasaran pada tahap yang dapat diterima.
· Organisasi memilih dan mengembangkan
aktivitas pengendalian umum atas teknologi untuk mendukung tercapainya tujuan.
· Organisasi menyebarkan aktivitas
pengendalian melalui kebijakan kebijakan yang menetapkan apa yang diharapkan,
dan prosedur-prosedur yang menempatkan kebijakan kebijakan ke dalam tindakan.
4. Informasi
Dan Komunikasi (Information And Communication)
Ada
3 prinsip yang mendukung komponen informasi dan komunikasi dalam pengendalian
internal menurut COSO,yaitu:
· Organisasi memperoleh atau menghasilkan
dan menggunakan informasi yang berkualitas dan yang relevan untuk mendukung
fungsi pengendalian internal.
· Organisasi secara internal
mengkomunikasikan informasi, termasuk tujuan dan tanggung jawab untuk
penendalian internal dalam rangka mendukung fungsi pengendalian internal.
· Organisasi berkomunikasi dengan pihak
internal mengenai hal-hal yang mempengaruhi fungsi pengendalian internal.
5. Aktivitas
Pemantauan (Monitoring Activities)
Aktivitas pemantauan menurut COSO merupakan kegiatan
evaluasi dengan beberapa bentuk apakah yang sifatnya berkelanjutan, memerlukan
evaluasi berkesinambungan dibangun ke dalam proses bisnis pada tingkat yang
berbeda dari entitas menyajikan informasi yang tepat waktu.
·
Kegiatan pemantauan meliputi proses
penilaian kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu, dan
memastikan apakah semuanya dijalankan seperti yang diinginkan serta apakah
telah disesuaikan dengan perubahan keadaan.
·
Pemantauan seharusnya dilakukan oleh
personal yang semestinya melakukan pekerjaan tersebut, baik pada tahap desain
maupun pengoperasian pengendalian pada waktu yang tepat, guna menentukan
apakah pengendalian internal beroperasi sebagaimana yang diharapkan dan untuk
menentukan apakah pengendalian internal tersebut telah disesuaikan dengan
perubahan keadaan yang selalu dinamis.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pemantauan
dilakukan untuk memberikan keyakinan apakah pengendalian internal telah
dilakukan secara memadai atau tidak. Dari hasil pemantauan tersebut dapat
ditemukan kelemahan dan kekurangan pengendalian sehingga dapat diusulkan
pengendalian yang lebih baik.
Lebih lanjut
dikemukakan bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada nungkin terjadi sebagai
hasil dari penetapan tujuan-tujuan yang menjadi prasyarat untuk pengendalian
internal tidak tepat, penilaian manusia dalam pengendalian keputusan yang dapat
salah dan bias, faktor kegagalan/kesalahananusia sebagai pelaksana, kemampuan
manajemen untuk mengesampingkan pengendalian internal, kemampuan manajemen,
personel lainnya, ataupun pihak ketiga untuk menghindari kolusi, dan juga
peristiwa-peristiwa eksternal yang berada di luar kendali organisasi.
BAB
4
KESIMPULAN
Pengendalian internal dapat membantu entitas
mencapai kinerja dan profitabilitas target, dan mencegah hilangnya sumber
daya. Hal ini dapat membantu memastikan pelaporan keuangan yang dapat
diandalkan. Bahkan pengendalian internal yang efektif hanya dapat membantu
entitas mencapai tujuan tersebut. Hal ini dapat memberikan manajemen
informasi tentang kemajuan entitas, atau kurang dari itu, terhadap prestasi
mereka. Pengendalian internal dapat memastikan keandalan pelaporan keuangan dan
kepatuhan terhadap hukum dan peraturan.
Pelaksanaan struktur
pengendalian internal yang efisien dan efektif haruslah mencerminkan keadaan
yang ideal. Namun dalam kenyataannya hal ini sulit untuk dicapai, karena dalam
pelaksanaannya struktur pengendalian internal mempunyai
keterbatasan-keterbatasan. COSO menjelaskan bahwa pengendalian internal tidak
bisa mencegah penilaian buruk atau keputusan, atau kejadian eksternal yang
dapat menyebabkan sebuah organisasi gagal untuk mencapai tujuan operasionalnya.
Dengan kata lain bahwa sistem pengendalian internal yang efektif dapat
mengalami kegagalan.
BAB
5
DAFTAR
PUSTAKA
Moeller, Robert. 2009. Brink’s Modern Internal Auditing 7th
edition. John Willey & Sons, Inc.; New Jersey.
Moeller, Robert. 2004. Sarbanes-Oxley And The New Internal Auditing
Rules. John Willey & Sons, Inc.; New Jersey
https://f2.washington.edu/fm/fa/internal-controls
Widagdo,
H. (2007, Oktober 16). Internal Control. Dipetik April 2014, dari Sisa Waktu:
http://sisawaktu.wordpress.com/2007/10/16/internal-control/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar